Saturday, January 12, 2019

Kekuatan Doa

Dalam menjalani peran kehidupan di dunia, kita memiliki satu rutinitas yang seolah menjadi kewajiban seorang muslim. Seperti tidak boleh absen dalam sehari sekalipun: doa.

Bahkan saat masih kecil, kita sudah sangat banyak menghafal doa. Doa makan, doa tidur, doa ke kamar mandi, doa masuk masjid, dan lainnya, sebelum dan sesudahnya. Diajarkan sebagai suatu upaya orang tua untuk membawa anak-anak menuju tangga keshalehan.

Sebagaimana Allah firmankan: berdoalah kepada-Ku maka Aku akan mengabulkan untukmu. (QS. Ghafir: 60). Doa menjadi sebuah sarana untuk meminta. Juga menjadi sebuah pengakuan bahwa kita itu lemah, tak mampu apa-apa tanpa pertolongan dari Yang Maha Mengabulkan Pinta.

Kita meyakini bahwa berdoa tidak harus berbahasa Arab seperti doa-doa yang kita hafal sewaktu kecil. Sehingga kita bebas mau minta apa, saking banyaknya keinginan kita. Hingga tiap kali menginginkan sesuatu, kita khususkan doa, berpanjang-panjang matur maring Allah dalam meminta untuk satu hal saja.

Dan disadari atau tidak, terlepas dari memang pemberian Allah, terkadang sesuatu yang kita dapat bisa jadi karena doa dari kita sendiri atau doa dari orang lain. Doa dari orang lain yang kita dengar juga yang sembunyi-sembunyi dipanjatkan untuk kita.

Seperti "Doa Ara terkabul!", ucap Ara kepada Emak-Abah #KeluargaCemara seraya mengakui doa dalam diamnya. Pengakuan itu kemudian menjadi penenang untuk Emak yang merasa kalut mengetahui kehamilannya di tengah kondisi keluarga yang sulit.

Maka, saat keinginan kita 'menyusahkan' orang lain, seharusnya wajar saja jika kita 'disusahkan' orang lain. Tinggal bagaimana kita menyikapi. Minta dimudahkan yang susah.

Kan bebas mau doa apa.

Pemanis Bibir

Istriku masih tertidur pulas saat alarm berbunyi. Kupanggil namanya juga tak ada respon, padahal dia orang yang mudah dibangunkan cukup dengan bersuara di dekatnya. Biasanya dia selalu bangun sebelum alarm berbunyi dan membangunkanku untuk tahajud bersama. Mungkin dia sedang berhalangan atau kecapaian karena tidur terlalu malam menungguku pulang terlambat karena menyelesaikan laporan akhir pekan. Aku tak tega membangunkannya dan kubiarkan dia tidur dengan mulut sedikit menganga.

Hingga adzan shubuh berkumandang dia tak bergeming. Curiga. aku dekati dia dan kupegang badannya, demam. Panik, tak tahu harus bagaimana merawatnya. Aku selimuti dia lebih tebal mengingat Ibu dulu melakukan itu saat aku sakit.

Kuambil ponsel segera menghubungi seseorang, tapi aku ragu siapa yang harus kutelpon untuk konsultasi; ibuku atau ibu mertuaku. Sambil kupegangi dahinya aku coba berpikir jernih di tengah kepanikan.

"Bu, Denok sakit, badannya demam, aku harus gimana?", kuadukan kepanikanku tanpa basa-basi pada Ibu.
***
Saran Ibu kulakukan tanpa terlewat detailnya, Denok berangsur membuka mata dan memaksa untuk melakukan aktivitas.

"Aku gapapa, Mas.", Denok berdiri sempoyongan hampir jatuh. Ngeyel. Maka kubalik paksa dia untuk tetap tidur.

Menjelang siang, Ibu datang bersama adikku. Baru saja kubuka pintu, Ibu dan adikku tersenyum geli melihat mukaku masih nampak panik.

"Denok di kamar? Ibu siapin makannya dulu yaa.. Nanti Ibu ke kamar.", Ibu dan adikku menuju dapur menyiapkan makanan yang mereka bawa.

"Nok... ada Ibu." Kataku pada Denok yang duduk lemas di sisi tempat tidur. Dia menuju meja rias merapikan wajahnya, kulihat ia memakai lipstik, lalu latihan tersenyum di depan cermin seolah tak ingin terlihat sakit di depan Ibu.

Denok mengajakku ke luar kamar untuk menemui Ibu. Meyakinkanku bahwa dia sudah membaik. Maka, di ruang makan kami bercengkerama dan makan bersama.

Aku dan adikku beranjak ke ruang tengah menghidupkan televisi. Kudengar percakapan Ibu dan Denok sedikit berbisik. Aku kurangi volume televisi berniat mendengar percakapannya.

"Matur nuwun nggih, Bu... sampun rawuh tengokin kami." Kata Denok lirih.

"Nyuwun pangapunten... Denok ga sekuat Ibu, masa gini aja sakit. Jadinya Denok ga bisa mendampingi Mas dengan baik." lanjutnya.

"Ssstt... hati-hati kalau ngomong. Dulu Ibu juga begitu, maunya kalau sakit ga usah dirasa, maksain diri. Tapi itu justru membuat Bapak 'sakit' karena seolah Bapak tak membolehkan Ibu sakit sama sekali.", Ibu terdengar sangat menenangkan.

"Matur nuwun ya, Nok.. udah hormat tamu, udah dandan cantik karena Ibu datang. Cukup lipstik saja yang jadi pemanis bibir, kalau ucapan jangan. Ucapan itu harapan, jadi harus yang baik bicaranya jangan hanya jadi pemanis bibir." nasihat Ibu semakin menenangkan.

Tuesday, January 8, 2019

Bunga di Tepi Jalan

"Mana yang sakit?", tanya Ibu berusaha menenangkan Denok kecil yang menangis setelah jatuh tersandung batu saat berjalan.

Ditunjuknya lutut yang merah terluka, sedetik kemudian Ibu ucapkan bismillah dan meniup lutut Denok yang merah itu. Langsung sembuh. Meski ada memar dan lecet yang terlihat, namun tangisnya langsung berhenti juga sakit yang ia rasa seketika hilang.

Ritual itu sering Ibu lakukan saat Denok terjatuh karena ketidakhati-hatiannya dalam berjalan. Sampai besar pun, ia yang seringkali jatuh (kalau kata tetangga; kurang selametan, dikit-dikit jatuh) mempercayai penyembuhan itu. Obat paling mujarab adalah dari Ibu!

"Hati-hati di jalan.", pesan yang seringkali Ibu ucap sejak Denok kecil tiap kali pamit pergi, khawatir akan keselamatannya dalam perjalanan.

Bagi Denok yang kini telah dewasa pesan itu tidak hanya agar ia selamat secara fisik. Lebih dari itu; hati-hati menjaga mata di jalan, hati-hati menjaga telinga di jalan, hati-hati menjaga hati di jalan.

Maka benar saja, suatu waktu dalam perjalanan pulang kuliah, Denok tergoda untuk melihat sejenis bunga dan hatinya berprasangka, "Apa istimewanya bunga jika hanya di tepi jalan?! Ia dilihat oleh banyak orang, namun tak ada yang memintanya untuk dimiliki.", seolah cemburu.

Padahal dari sisi lain kita layak melihat proses berbunganya yang bisa jadi istimewa. Di jalanan, ia tertempa angin dan hujan yang menjadikannya justru kuat dan bersahaja. Membuat banyak orang mungkin saja berebut memilikinya.

Betapa banyak godaan di jalanan. Hati-hati di jalan!

Sunday, January 6, 2019

Plesiran

"Mas, semua udah siap yaa.", laporku pada suamiku setelah yakin semua bekal untuk perjalanan jauh kali ini rapi terpacking.

***
Kami berdua punya hobi tamasya sejak belum kenal dan menikah.

Tapi sekarang apa yang spesial?

Dulu sebelum menikah, aku sering tamasya bersama teman untuk kepuasan sendiri, koleksi foto diri, sebagai bukti pernah ke sana-sini dan makan itu-ini. Alih-alih biar ga ada yang bilang, "Kurang piknik."

Setelah menikah, tamasya bersama suamiku tidak sekadar memperbanyak foto dan enak kulineran. Seperti saat kami mampir Kudus dalam perjalanan mudik. Aku melihat menu makanan soto khas Kudus dan heran kenapa tidak ada soto daging sapi. Maka suamiku ceritakan sejarah Sunan Kudus dan sapi. Melihat aku manggut-manggut, ia meledek, "Makanya jangan asal piknik aja. Harus sambil belajar biar ga kagetan."

Banyak pelajaran yang aku dapatkan setiap tamasya, plesiran bersamanya. Memahami perubahan, persamaan, dan perbedaan satu daerah dengan yang lainnya.

Selain mengajakku sowan ke ndalem Kiai di daerah yang kami tuju untuk ngangsu kaweruh, terkadang kami mengunjungi makam ulama' penyebar agama Islam. Pernah ia berujar setelah cerita bahwa ulama' yang kita kunjungi makamnya itu adalah seorang pendatang, "Orang jaman dulu juga suka plesiran. Coba kalau ga, bisa jadi daerah ini belum tentu jaya Islamnya. Nah, ini plesiran yang ga pulang tapi manfaat. Kalau Mas plesiran sendiri ya harus pulang, karena ada Denok di rumah." candanya. Merenungi hikmah plesiran.

***
Plesiran kali ini adalah yang paling jauh dari yang sudah-sudah. Setelah perjalanan panjang akhirnya kami sampai di penginapan, ingin segera istirahat karena sudah tengah malam.

Sebelum istirahat, kami hendak shalat. Aku cek arah barat dengan kompas kemudian menggelar dua sajadah depan-belakang.

"Denok udah cek arah kiblat?". tanyanya, aku mengangguk.

"Kalau sekarang shalat menghadap barat, justru kita membelakangi kiblat. Itu ada tanda arah kiblat." katanya sambil menunjuk sebuah tanda.

Ia tersenyum lebar, menertawakan kebodohan istrinya mungkin. "Nah, ini juga hikmah plesiran."

Spesial, kan?!

Saturday, January 5, 2019

Cande Olo

Dulu, orang sepuh selalu marah melihat anaknya masih bermain di luar rumah saat cande olo muncul. Semua mencari anak-anaknya, digertaknya mereka untuk pulang lalu mereka gandeng anak-anaknya meninggalkan area bermain sambil mengomel.

Aku mengintip dari jendela, menertawakan teman-teman yang lewat depan rumah, diomelin. Bukan karena aku anak baik yang sadar dengan sendirinya untuk pulang sebelum sore hilang, tetapi lebih karena tidak ingin kena omelan Bapak. Serem.

Saat cande olo muncul, kegiatan di luar rumah harus berhenti. Semua harus bersiap dengan sarung dan mukenanya menuju surau desa menunggu waktu Maghrib. Meski sesampainya di surau anak-anak akan bermain lagi. Hal itu dimaklumi, asal mereka bersiap sembahyang.

Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun pada masa kecil kami sehingga kami selalu ngeh pada cande olo, seolah menjadi alarm bagi kami untuk mengakhiri semua kegiatan hari itu dan menyambut malam dengan sembahyang mengaji.

Namun, ribuan hari dari rutinitas masa kecil itu dan ribuan kilometer dari surau desa kami, aku seringkali tertahan dalam keramaian orang yang  berebut giliran masuk KRL saat cande olo menyapa.

Semua orang ingin cepat pulang, setelah menerima panggilan elektronik dari sang Mama atau panggilan batin tangisan buah hati. Memang sudah waktunya pulang setelah bekerja seharian.

Aku rindu cande olo ribuan hari lalu saat semua dijemput pulang dengan omelan agar cepat menuju surau. Bukan cande olo kini yang semua saling lempar amarah berhimpitan di antara keringat bau.

Pada akhirnya, kami menyadari bahwa omelan yang dulu kami terima bukan sekedar amarah tetapi bekal menjalani kehidupan masa depan. Cande olo, menjadi waktu pertemuan antara siang dan malam. Bukan karena akan ada Buto Ijo datang sebagaimana Ibu temanku menakut-nakuti anaknya dulu, tetapi agar kita bergegas pulang takut terlewat waktu Maghrib yang singkat.

Maka, apalah makna kehidupan singkat ini jika kita tidak niatkan ibadah semua perbuatan dalam sehari yang kita habiskan di luar rumah?

Lamunanku terbuyar saat seorang teriak tepat di telingaku, "Wooii.. dorong terus geser ke dalem!"

Friday, January 4, 2019

Setinggi-Tingginya Terbang

Waktu kecil, tiap mengunjungi toko mainan aku akan menyisir rak mainan mencari miniatur pesawat. Memandangi, bergumam sendiri, mengagumi betapa kerennya pesawat warna-warni. Alih-alih minta dibelikan mainan.

Mau jadi pilot. Jawabku tiap kali ada yang tanya kenapa aku suka mainan pesawat. Kata Ibu, mataku selalu berbinar saat aku bermain, sambil mengayunkan mainan di tanganku, aku akan teriak, "Terbang tinggi!", kemudian tersenyum. Ayah akan menimpali, "Wah, hebat sekali! Pesawat anak Ayah bisa terbang sangat tinggi!", kami tertawa, senang.

Dulu bagiku, seorang pilot adalah orang terhebat yang bisa menerbangkan burung besi keliling dunia. Bagaimana tidak kukagumi sosok pilot berseragam putih dengan topi di kepalanya, berjalan dengan gagahnya, dan terbang bertandang ke langit biru? Itu lebih keren dari tokoh animasi yang terbang dengan tangan mengepal ke atas.

Beranjak remaja, cita-cita teman-temanku berubah dari taxi driver menjadi dokter, dari spiderman menjadi fireman, dari pramugari menjadi polisi, dan macam lainnya, cita-citaku tetap sama. Pilot. Menjadi orang yang bisa terbang kemanapun.

"Ga mau berubah juga, Nak?", tanya Ibu setelah mendengar cerita tentang teman-temanku.

"Aku masih mau jadi pilot.", kujawab dengan tetap fokus menyusun lego pesawat.

"Menjadi pilot tentu kebanggaan untuk Ayah dan Ibu. Ayah akan bangga melihatmu berkawan awan, terkadang melawannya. Seberapapun seringnya kamu mengunjungi langit, sempatkan untuk duduk beralas tanah.

Ayah Ibu akan selalu bangga padamu selama kamu baik, apapun jadinya kamu. Setinggi apapun ilmu yang kamu miliki, jangan pernah tidak untuk rendah hati."

Pesan itu diakhiri dengan potongan ayat yang dibaca Ayah. Saat itu aku hanya mengangguk-angguk. Mencoba faham.

Dua puluh tahun berlalu. Hari ini, aku akan melakukan perjalanan dinas ke negara sebelah. Sebelum terbang, kudaras beberapa ayat untuk menenangkan hati, kulafalkan ayat yang menjadi pesan Ayah dulu untuk mengingatkan diri.
(وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ)
"Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui" [Yusuf 76]

Thursday, January 3, 2019

Nasihat Pak Tua

Ada seseorang yang seringkali menghabiskan waktunya untuk memikirkan orang lain. Selalu mencari cara untuk membantu yang susah meski dirinya sendiri tengah dalam kesulitan.

Saat seorang kawan meminta bantuan kepadanya untuk yang kesekian kalinya, ia tak pernah menolak, dan dalam hitungan yang sama ia selalu menolongnya. Bahkan lebih dari yang diminta, ia selalu khususkan doa untuk mereka. Tidak hanya satu atau dua kawan, yang lama atau yang baru, atas segala permintaan bantuan raga juga materi.

Tak jarang, kebaikannya disalahartikan oleh yang lain. Dikira hanya mencari muka, dikira membantu dengan pamrih agar dipuja dan dituankan. Sehingga banyak hinaan, cacian, pun fitnah.

Namun nyatanya, ia tak pedulikan omongan orang. Semakin ia disakiti, semakin panjang doa yang ia langitkan untuk kebaikan hidup mereka yang menyakiti.

Ia lakukan semua kebaikan meski tak ada yang tahu. Selayaknya ia mampu meniatkan semua perbuatan baik hanya karena Allah. Hingga ia tak risau atas cela orang lain.

Sore itu, keluarga kecil berkumpul dalam sebuah ruangan membahas celaan yang sungguh melukai hati anak-anak Pak Tua.

"Sudah lah, Pak! tidak usah Bapak mati-matian membantu mereka kalau pada akhirnya mereka hina Bapak", bujuk putra sulungnya.

"Kami ga bisa lihat Bapak diginiin. Sakit hati kami, Pak!", lanjut putra bungsunya.

Pembicaraan tetap berlanjut sementara Pak Tua serius mendengarkan semua pembelaan anak-anaknya sambil memejamkan mata, sesekali menghela nafas panjang, namun dalam hati ia terus berdzikir.

"Pak, kita harus balas..."

"Cukup!", Potong Pak Tua saat anak perempuan satu-satunya angkat bicara.

"Biarkan Bapak menjalani ini semua. Barangkali ini ujian untuk keikhlasan Bapak, akankah Bapak kecewa atau marah.", Pak Tua memandangi anak-anaknya satu per satu. Semua terdiam.

"Akhlak buruk itu... muncul dari hati yang buruk. Istighfar!", Pak Tua melirihkan suaranya.

Semua menerawang, teringat pada wejangan Pak Tua suatu waktu dulu, mengutip sebuah ayat;
(هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)
[Ar-Rahman 60]

Wednesday, January 2, 2019

Gara-Gara Terserah

"Mas, mau ngunjuk apa?", tanya istriku.

"Terserah", jawabku singkat. Setelah sebelumnya kuminta dia membuatkan minuman hangat.

Tak lama berselang, Denok, istriku, datang membawa segelas air putih hangat. Lalu ia menyusulku duduk berdampingan di kursi beranda rumah, merasakan sisa-sisa hujan semalam.

Aku sedikit menahan kaget. Kulihat istriku menangkap keanehan wajahku, secepat mungkin aku tersenyum padanya.

"Ada yang salah, mas?", tanyanya. Curiga.

"Engga... makasih yaa...", senyumku semakin mengembang, geli.

Berdua saling bertukar cerita, sesekali menyapa tetangga yang lewat depan rumah. Mengenalkan istriku kepada tetangga yang kemaren berhalangan hadir dalam pesta ngunduh mantu.

Tak lama, Ibuku keluar menengok kami berdua di depan rumah

"Lho... belum wedangan tho, Le?" Sapa Ibuku, lalu masuk kembali ke dalam rumah.

Kulihat wajah istriku yang bingung, cemas, dan takut. Kusunggingkan senyum dan kembali bercerita tentang masa kecilku.

"Iki wedange... kita coba pakai gula batu ini. Oleh-oleh dari teman kuliah Ibu, kemaren rawuh ke mantenanmu, Le.. Nok... Ternyata sampai sekarang, di daerah Brebes kalau wedangan isuk ya pakai gula batu ngene iki", Ibuku datang membawa nampan berisi gelas-gelas wedang teh dan beberapa plastik kecil gula batu.

"Nok... kita bikin pisang goreng sebentar, ya... tinggal goreng, Ibu sudah bikin adonannya", ajak Ibuku pada menantu barunya.

"Injih, Bu...", jawab istriku cepat, agak terkesiap.

Sebelum mengikuti langkah Ibuku yang sudah masuk kembali ke dalam rumah, Denok menoleh padaku.

"Mas, ternyata kalau pagi njenengan wedangan teh gini ya?!" wajahnya panik, antara malu dan merasa bersalah. Mungkin sambil menahan kalimat setelahnya; kenapa ga kasih tau aku?! .

Tuesday, January 1, 2019

Bebas

Subuh tadi, suara yang terdengar dari pengeras suara mushala membuat resah semua orang. Bukan karena jeleknya suara dari pengeras suara yang telah tua usianya, namun suara dari pengajian ba'da subuh yang terdengar menggebu-gebu dan memekikkan telinga.

"Mulutnya terlalu dekat dengan mic." ujar salah seorang jama'ah.

"Bicaranya sambil teriak. Di sawah juga kita ngomong biasa aja ga usah teriak." sambung yang lainnya. Kesal.

"Sudah... nanti kita sampaikan saja ke pengurus mushala. Pak Ustadz itu isi ceramahnya bagus, tapi penyampaiannya saja yang kurang cocok dengan masyarakat desa kita." seorang bijak menenangkan.

Sebebas-bebasnya kita boleh berbicara dan berperilaku, ternyata ada aturan yang harus kita perhatikan. Ada adab yang telah diajarkan turun temurun sebagai resep bersinggungan dengan sesama.

Melalui kalam-Nya dan dawuh utusan-Nya semestinya kita bisa mengejawantahkan pedoman hidup. Jika belum mampu memahami semua dawuh, banyak sekali Kiai dan guru-guru yang dari mereka kita bisa ngangsu kaweruh agar bisa paham lakon urip harus seperti apa.

Kita hidup bebas, lepas, terserah, namun bukan berarti tak terarah, bukan tak beraturan. Ada batas-batas yang tidak boleh kita lewati dan selalu ada tali temali untuk pegangan kita saat kita terlalu lepas berlari.

Jadi, kita bisa 'bebas' untuk beberapa hal, bukan semua hal.
Mau piknik kemana kita? Bebas.
Mau makan apa? Apa aja.
Shalat Subuh dijama' aja yaa? Terserah. Nah... ga bisa bebas kan? wkwk

Ingatkan saya yaa kalau saya terlalu lepas.
waAllahu a'lam.

Wednesday, December 26, 2018

Sebagai Pengingat

Setiap Ibu adalah idola
Hingga kata dan lakunya
Selalu istimewa
Dalam ingatan anaknya

Setiap Ibu adalah kebanggaan
Semua darinya haruslah panutan
Bekal meniti jalan kehidupan
Meraih kebahagiaan

Selalu ada cinta apapun keadaannya
Tak pernah putus doa selamanya
Untuk dunia-akhirat anak-anaknya
Karena setiap Ibu adalah surga

***
Dear, Isna di masa depan
Kelak, ingatlah kamu pernah menulis ini untuk dirimu sendiri sebagai pengingat nanti..

Wednesday, December 12, 2018

Kata Ibuk

Ini kali kedua aku melihat Ibu termenung seperti memikirkan sesuatu yang penting. Sambil menimang cucu, anak kakakku, yang sudah terlelap dalam pelukan hangat Ibu, Ibu merapal mantra, lirih. Namun, sorot matanya menerawang.

"Buk... Adek mau ditaruh dulu di kasur?", tanyaku.

"Ndak apa-apa, nanti kalau ditaruh malah bangun." Jawab Ibu.

"Ibuk nembe nggalih napa?", lanjutku kemudian. Diikuti hela nafas Ibu seraya menatap anak gadisnya dan tersenyum.

"Mugi enggal ketemu jodoh yaa, Ndhuk..."
***

Aku ingat suatu hari, lima tahun yang lalu, Ibu terengah-engah memasuki rumah. Lalu segera ngunjuk teh panas yang sudah kami siapkan.

"Kalau bisa jangan sama bocah kui, Le", Tutur Ibu pada kakakku setelah bercerita bahwa Ibu baru saja pulang dari kampus cewek incaran kakakku. Ya, Ibu baru saja  memata-matainya. Ibu turun lapang sendiri, ditemani sepupu kami yang juga satu kampus.

"Ya 'kan bisa aja dia lagi ga Shalat, Bu..", Kakakku menanggapi.

"Ora, wong Ibu ngintili areke sampe Masjid kok!"

Kemudian dilanjutnya cerita bahwa orang yang dimaksud itu Shalat Zhuhur di akhir waktu, mepet di waktu Ashar. Bagi Ibu, itu merupakan hal yang tak semestinya dilakukan. 

Aku yang mendengar percakapan Ibu dan kakakku dari ruang sebelah tertawa heran. Ibu segitunya pilih mantu. 'Kan bisa saja kekhusyu'an itu bisa ditemui di luar Shalat. Alih-alih aku teringat gebetan kakakku itu adalah aktivis sebuah organisasi yang concern dalam kegiatan sosial.

Namun karena percakapan itu, aku jadi tahu salah satu ketentuan 'baik' yang pernah kutanyakan pada Ibu.

"Ibuk pados mantu kados napa?"

"Yang shalih", jawab Ibu singkat.

"Lalu aku harus gimana, Buk?"

"Ya harus baik, lebih baik."

Setelah mendengar diskusi Ibu dengan kakakku itu aku mulai memperbaiki ritme Shalatku sendiri, sebisa mungkin Shalat di awal waktu. Sebelumnya, aku sering kali melewatkan awal waktu tiap Shalat. Juga langsung ngacir setelah salam. Seperti hanya menggugurkan kewajiban saja tanpa menyadari bahwa aku lah yang membutuhkan Shalat itu sendiri.

Sampai sekarang aku masih sering alpa dan salah dalam menapaki perjalanan menuju keshalihan, namun pesan Ibu itu selalu saja terngiang, seolah mengingatkan diri yang terus saja bandel.

Di lain waktu, Ibu pernah duka ke mbak emban di rumah kami saat mendengar suara air mengucur dan gesekan beling dari piring-piring yang dicuci.

"Bapak nembe sare. Cuci piringnya nanti saja, takut Bapak nanti wungu!" tegur Ibu.

"Lagian kalau cuci piring itu jangan sampai ada suaranya. kelontangan. Saru!" lanjutnya.

Ya kali nyuci piring ga pake suara.

Lalu tak lama dari kejadian itu, aku kembali bertanya pada Ibu.

"Ibuk pados mantu kados napa?"

"Yang shalih."

"Lalu aku harus gimana, Buk?"

"Ya harus baik, lebih baik... tur njawani"

Dari kejadian itu aku belajar beberapa hal yang njawani. Tentang cuci piring dan menghormati orang tua. Sejak saat itu juga, aku tidak pernah bersuara selirih apa pun di dekat Bapak atau Ibu yang sedang sare.

Hal-hal sederhana lainnya yang Ibu ajarkan hingga hal-hal penting yang menjadi perhatian Ibu, secara tidak langsung menjadi pelajaran bagiku.

Ibu adalah orang yang sangat teliti dan setiti. Tiap kali ada hal yang tidak pas menurut Ibu, aku dan kakakku didudukkan dan dituturi. Tak jarang, kami merasa Ibu itu otoriter dan sering juga nyelekit tuturnya.

Tapi itu lah Ibu, orang yang terkadang membuat sendu dalam pilah-pilih kata, namun juga orang yang sangat kami rindu kala dinas luar kota.

Semua yang Ibu katakan dan lakukan, salah dan benarnya, bagi kami adalah teladan. Hikmah. Koreksi untuk kami dalam menjalankan lakon urip.
***

"Ibuk khawatir, nggih? Ngapunten nggih, Buk... sampai sekarang dalem belum menikah juga." jawabku setelah Ibu mendoakan enggal berjodoh.

"Kok maaf... belum ketemu jodoh itu bukan suatu kesalahan. Ibuk mendoakan... awakmu ikhtiar dan terus berdoa." Jawaban yang dilematis, bukan?

Kuulang pertanyaan yang dulu pernah kuajukan, "Ibuk pados mantu kados napa?"

"Sing shalih."

"Lalu aku harus gimana, Buk?"

"Ya harus baik, lebih baik... tur njawani . tidak menyalahkan diri sendiri dan yakin husnuzhan maring Gusti Allah."

Monday, December 3, 2018

Setelah Pertemuan Singkat

Siapa yang mengira kita akan bertemu pada hari itu? Di tengah keramaian orang yang bertukar sapa, pesonamu tetap saja begitu.

oiyaa, ini bukan soal reuni alumni yang digelar kemaren. penting.

Dari jauh aku melihatmu, gurat wajah yang semakin bijaksana dan senyummu yang semakin kuat beraura.

Kemudian, aku melihat bola matamu mencari-cari sementara keinginanku kuat untuk bertemu namun tak berani.

Dan kita bertemu, di sudut itu.
Berbinar mata jernihmu
Seraya mengusap kepalaku
(aah, cuma GR nya aku)

Dan hanya begitu,
Tanpa duduk bersama.
Seperti kelu
Tak mampu berkata apa-apa.

Setelah pertemuan singkat, aku semakin rindu!
(ya kan?! kata siapa obat rindu adalah bertemu? justru, semakin sakit!)

Sunday, September 2, 2018

Untuk Aida ❤

Menyentuh tangan Tala seakan menggenggam tangan gadis kecil 10 tahun yang lalu. Ndredeg dan mbrebes mili. Mengingat kala itu, meyakinkan diri akan kenyataan bahwa Bapak telah berpulang.

Gadis kecil yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya oleh kami akan kehilangan sosok ayah dengan cepat.

Gadis kecil yang senantiasa tersenyum menyambut uluran tangan orang-orang yang bersimpati, menahan emosi yang entah.

Gadis kecil yang membuatku malu karena aku terus sesenggukan kala itu. Gadis kecil yang menguatkanku... Hingga kini, melewati segala suka duka, bahagia juga lara. 

Gadis kecil yang kini sudah beranjak remaja memasuki tahun pertama di bangku kuliah. Adik ragil kami.

Dear, Aida... berjalanlah selalu dalam kebaikan, meliputi hidup dengan segala hal baik agar selalu dirahmati dan diberkahi Allah.

Kuatlah... Meski dihajar sini dan ditampar sana oleh keras dan lugasnya hidup, makin kuatlah... genggaman tangan mungilmu dulu telah menguatkan kami, maka yakinlah bahwa genggaman tangan Tuhan akan selalu menguatkanmu.

Jaga diri baik-baik, yaa... selalu jadi baik... Sebagaimana harapan Bapak dan Ibuk untuk kita semua. 

Kita akan selalu saling mengingatkan, saling menguatkan... 

We love you... :')

Saturday, August 25, 2018

Kapan?

Mungkin tulisan ini biasa saja, seperti biasanya Gibran bin Jokowi bilang. Bisa jadi tulisan ini ga penting, karena bukan masalah yang genting. Tapi yaudah lah, aku coba.. untuk berdamai dengan diri sendiri, menguatkan diri sendiri, yaa.. bela hati sendiri. wkwk

Pernah ga kamu merasa orang-orang di sekitar menanyakan suatu hal yang sama dan berulang-ulang? Aku pernah. Sering. Tahu kan pertanyaan tentang apa? Tentang masa depan yang aku susun... tapi belum terwujud.

Awalnya, merasa sangat terganggu. "Urusan kamu apa?" Hingga suatu saat Allah kasih lapang hati untuk menyadari dan aku bisa mencoba husnuzhan bahwa tujuan mereka baik dan itu adalah suatu bentuk perhatian. Dari yang "Apaan banget, sich" sekarang alhamdulillah sudah semakin santai dengan mengamini 'harapan gek ndang' dari mereka. Meskipun kadang masih yang aduh. Amini saja, Ad-du'a bir-Rumuuz kalau kata Pak Kiai.

Siapa yang ga mau mewujudkan keluarga yang penuh kebahagiaan? Suami yang selalu membersamai setiap hari, anak-anak yang menyemarakkan rumah, tentu saja aku ingin. Lebih-lebih saat melihat kebahagiaan yang dishare kawan-kawan seumuran, kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Iri? Iya. Tapi belum waktuku. Bukan karena ga mau, bukan juga karena banyak cincong. wkwk

Pernah suatu waktu sampai pada titik kenapa belum juga? Aku harus bagaimana?

Kemudian Sang Guru menenangkan; sabar, terus minta, perbaiki diri, tawakkal.

Karena kapan yang ini, tidak semudah menjawab:
1. Kapan mau makan seblak?
2. Kapan mau nonton minion?
3. Kapan mau beli cireng?

Yaudah, kapan yang ini dibawa santai tapi serius aja.

Etapi sekarang lebih terbebani saat ditanya kapan sidang tesis dari pada kapan nikah. wkwk

Wednesday, August 22, 2018

Mau Pindah Rumah?

Seseorang menyapa, menanyakan kabar, dan sesekali mengusap debu yang menempel di pagar rumah. Iya. Sudah sangat lama rumah ini tak dihuni. Ditengok sih iya tapi hanya di teras rumah, tidak bisa masuk karena lupa disimpan di mana kuncinya.

Lalu kepikiran, harus kah pindah rumah? Meninggalkan semua barang di rumah lama? Toh, itu barang lawas. wkwk. Atau kalau ga rela meninggalkannya, dobrak saja pintu rumahnya dan aku bisa ambil semua barang untuk dibawa ke rumah baru. Belum ketemu juga kuncinya.

Survey beberapa rumah, menggiurkan! Modern, lebih keren dari rumah lama. Udah, pindah aja lagian belum ketemu juga pintunya.

Dan memang akan mudah saja memindahkan semua barang walaupun ga ketemu kunci rumahnya. Tapi ternyata, bagiku barang-barang itu tidak hanya sesuatu yang bisa disentuh. Ternyata rumah lama; semua barang-barang yang ada di dalamnya adalah istimewa bukan karena lawasnya namun karena kekuatan perjuangan yang meski kuno tapi bermakna, meski akan mengingatkan luka tapi akan menguatkan jiwa, meski terasa menyesakkan hati saat mengingatnya tapi akan melapangkan hati kedepannya. wkwk.

Akhirnya, welkambektodeblog! Yaudah gapapa malu-maluin kalau baca tulisan lawas, tapi biarlah buat ketawa-tawaan.

Ketemu kuncinya? Tidak!
Terus gimana bisa masuk? Bisa aja!
Allah yang kasih jalan.

wkwk.

Saturday, June 4, 2016

Untuk Sebuah Nama

Saat tak terdengar lagi suara tegasmu
Kami semakin rindu nasihat-nasihatmu
Saat tak tercium lagi wangi khasmu
Semakin ingin kami lihat kembali laku bagusmu

Masih banyak yang ingin kami tahu darimu
Namun hanya kisah teladan masa lalumu
Dan bayang kenangan bersamamu
Yang mampu sedikit mengobati rindu padamu

Kepada tatapan mata yang meneduhkan
Senyum dan canda yang membahagiakan
Jiwa yang selalu menenteramkan
Kini rindu kulabuhkan tanpa pertemuan

Tenanglah engkau dalam kedamaian
Berbahagialah engkau dalam pelukan Tuhan

Tuesday, December 8, 2015

Faith and the City


Hanum dan Rangga kembali mengajak pembaca hanyut dalam kisah yang dituangkan dalam novel terbarunya, Faith and the City. Philipus Brown, Azima Husein, Sarah, dan Layla kembali menemani perjalanan Hanum dan Rangga. Novel ini menyajikan sebuah teka-teki sebagai pembukanya, mengajak pembaca untuk tidak berhenti melumat kata demi kata dan lembar demi lembar.

Melanjutkan sebuah paparan akan Islamophobia, Hanum dan Rangga menyajikan kisah Faith dan Alex yang membuat pembaca ikut tergerus emosinya, antara kesal, haru, dan bahagia. Teka-teki yang disuguhkan sangat rapi dan tentu saja membuat pembaca semakin bertanya-tanya tak sabar menemukan jawaban dalam setiap lembarnya.

Cerita tentang Faith menyuguhkan betapa dunia merupakan kumpulan puzzle yang satu saja bagiannya hilang akan membuat sebuah gambar tak dapat ditangkap pesannya. Sehebat apapun disembunyikannya sebuah kebohongan, kebenaran akan selalu bersemayam pada tempatnya.

Novel ini lebih terasa romantis dari novel-novel sebelumnya. Melalui kisahnya, Hanum dan Rangga berupaya menuturkan betapa dalam sebuah pernikahan membutuhkan sebuah kepercayaan satu sama lain. Dalam cobanya di kehidupan dunia, seringkali tujuan pernikahan dipertaruhkan dengan tujuan jiwa berbelut keegoisan. Seringkali manusia dicoba dengan godaan ambisi akan gelimang harta, kekuasaan, bahkan pujian dan kebanggan sekalipun. Lamaran Cooper kepada Hanum dengan iming-iming karir yang dalam sekedipan mata bisa melejit, bersamaan dengan kejar pening disertasi Rangga yang harus diselesaikan, merupakan awal kisah rumah tangga jembatanAzima terkoyak. Betapa kuatnya kepercayaan yang dibangun Hanum dan Rangga atas nama kesabaran, ketulusan, dan cinta yang dipupuk membuat mereka kembali memperjuangkan tujuan kebersamaan mereka dalam kisah klimaksnya.

Atas nama semua iming-iming dunia seorang muslim tak ubahnya manusia yang menghamba pada dunia yang tak abadi, jika tidak diimbangi dengan kekuatan iman yang bertambah dan berkurangnya bisa juga disebabkan oleh orang lain. Faith and the City mengingatkan kita betapa hebatnya kita dalam berkarya, betapa menyilaukannya gemerlap kota, semua itu tidak mungkin kita gapai tanpa kuasa Allah yang selalu Mendengar doa yang dirapal dan Melihat usaha yang diperjuangkan.

Dan tahukah kalian, mba Hanum dan mas Rangga? Pesan religi yang kalian suguhkan dalam novel, yang diperjelas melalui epilog sungguh menusuk jiwa. Matur nuwun, matur nuwun sanget...

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS. Maryam: 96)

Aku sudah tidak sabar menunggu karya-karyamu selanjutnya.

Thursday, March 5, 2015

surat untukmu

Aku fikir semakin waktu berlalu aku bisa tak mengambil sedetikpun untuk mengingatmu. Seiring putaran waktu, aku kira aku bisa tak lagi melihatmu dalam setiap susunan kata.

Namun ternyata tidak. Semua itu tak semudah yang kufikirkan.

Semakin waktu berlalu, justru aku semakin mengingatmu. Semakin lama, semakin aku tak kuasa melupakanmu dan semakin dalam kerinduanku.

Bagaimana bisa aku meninggalkan semua tentangmu sementara kau masih saja selalu bersemayam, enggan hilang.

Meski kau benar-benar tak lagi berwajah nyata di hadapku, ternyata aku tak benar-benar melepasmu.

Bagaimana kabarmu? Bolehkah aku tahu seberapa bahagianya kau kini?

Monday, December 22, 2014

Selaamat Hari Ibu, Ibuk ♥

Saat kita bilang setiap hari adalah hari untuk Ibu, apakah sudah setiap hari juga kita spesialkan Ibu? Kita bilang setiap hari ada cinta untuk Ibu, sudahkah setiap hari kita menjadi anak yang baik di hadapan Ibu yang telah membesarkan-mendidik-dan mengajarkan banyak hal?

Jangan salahkan adanya hari Ibu ini, tak pantaskah kita dedikasikan meski satu hari untuk Ibu? Jangan hanya latah posting foto bareng Ibu di sosmed, pun tulisan macam ini sehari saja. Buktikan rasa, pengabdian, dan bakti padanya, setiap hari, setiap saat yang kita punya.

Berhentilah sejenak dari kegiatan rutin hari ini, tanyakan kabar Ibu, kesehatannya, keadaannya, dan khususkan doa untuk kesehatan dan kelancaran urusannya...

Selamat hari Ibu, Ibuk...
Semoga Ibuk selalu sehat, semakin kuat, semakin menginspirasi kami untuk menjadi perempuan hebat dan sosok ibu yang istimewa...

Terima kasih atas titahmu sebagai Ibuk yang sempurna, atas doa yang selalu kau khususkan untuk kami, anak-anakmu, satu per satu setiap munajat siang dan malammu.

Nyuwun pangapunten nggih, Ibuk... aku sering alpa sms atau nelfon menanyakan kabar Ibuk... i love you to the moon and back ♥♡♥♡♥

Rabbi ighfir wa ircham liummiy...

Thursday, December 4, 2014

Yes, I Will...

Hari ini tepat tujuh belas bulan aku mengenalnya. Seorang pria yang sangat menghargai dan mendukung semua kebaikan, yang mengajak untuk menyiapkan kehidupan abadi kelak, dan yang sebentar lagi akan menjadi teman melangkah beriringan hingga akhir usia. Di dunia dan di akhirat, insya Allah.

Aku bertemu dengannya pada suatu perjalanan rutin setiap pagi. Perjalanan menuju kantor yang kutempuh dengan fasilitas KOPAJA AC yang cukup menjanjikan. Dari tempat tinggalku, aku cukup berjalan sepuluh menit menuju halte busway terdekat, halte ke empat dari halte central, untuk kemudian melewati dua belas halte dengan bus KOPAJA AC menuju kantor.

Suatu pagi hari Senin, seorang pria tersenyum ramah padaku dan memberikan tempat duduknya saat aku melangkah memasuki bus. Aku pun dengan senang hati menyambut kebaikannya karena biasanya aku tak pernah mendapat jatah kursi di jam-jam berangkat kantor seperti ini. Aku membalas senyumnya seraya berterima kasih.

Dua belas halte terlewati, aku melangkah keluar bus dan menaiki tangga halte untuk menyebrang menuju kantor. Pria yang merelakan kursinya tadi tersenyum lagi dengan memamerkan deretan gigi rapinya dan berjalan mengikutiku. Aku mulai curiga dan berprasangka buruk, jangan-jangan orang ini punya maksud jahat padaku dan kebaikan 'kursi'nya tadi adalah sebuah modus?! Ah, ternyata tidak. Aku terlalu was-was saja. Tepat di tengah jembatan penyebrangan atas, aku melangkah belok kiri dan pria tadi belok kanan.

Sore harinya, saat aku menunggu bus andalanku datang, seorang pria menjajari tumpuan kakiku. Pria tadi pagi. Dia tersenyum dan kubalas senyum simpul. Kami menaiki bus yang sama dan sama-sama berdiri.

Kejadian persis seperti tadi terulang hingga lima hari kerja berturut-turut. Kami bertemu di jam berangkat kerja yang sama, dia berikan kursi tiap pagi dan mengintil jalanku di jembatan penyebrangan, lalu kami berpisah di tengah jembatan atas, dan sama-sama berdiri di bus yang sama tiap jam pulang kerja, aku lebih dulu turun dari bus, sebelumnya, dan aku tak tahu dimana dia akan mengakhiri perjalanannya.

Minggu kedua, pada Senin pagi, pria tak bernama itu berani menyapa saat aku kebagian jatah kursi kosong di sebelahnya. Entah, mungkin ini kebetulan yang direncanakan Tuhan. Pertanyaan simple tentang nama, tempat tinggal, dan kantor pun jadi perbincangan kami. Dari percakapan itu akhirnya aku tahu bahwa dia adalah perantau ibu kota dan pegawai baru di sebuah kantor swasta depan kantorku, seberang jalan. Pantas saja kami bertujuan halte yang sama tiap pagi. Mulai hari itu lah aku mengenalnya, seorang teman jalan tiap pagi dan sore.

Kami semakin dekat selayaknya teman. Saat pulang menjadi waktu yang kesannya slalu kitunggu. Terkadang kami bertemu di titik tengah jembatan atas, terkadang dia terlebih dulu menunggu bus dan rela menunggu bus berikutnya karena aku belum sampai, dan begitupun sebaliknya aku. Kami membincangkan gawean kantor yang terkadang bikin stress dan membincangkan hal-hal tak penting lainnya, seperti film, novel, kucing, travelling, kuliner, fotografi, dan sesekali menghujat perpolitikan.

Dua bulan berlalu sejak aku menganggap mulai mengenalnya. Kami bertukar nomer telepon. Perbincangan yang awalnya sebatas di perjalanan pun berlanjut di rumah, by phone. Kami mulai membincangkan hal-hal pribadi seperti karir, keluarga, sekolah, dan jodoh.

Azka, aku membawa namanya pada Ibu saat dia memberiku buah tangan dari luar kota, usai tugas kantornya. Saat itulah pertama kalinya Ibu bertanya kembali tentang pernikahan setelah tiga tahun berlalu, setelah pernikahan 'seseorangku' saat itu dengan perempuan pilihan tuan gurunya.

"Kamu suka sama dia, Nok?"

"Ibu... Kinan baru kenal, Kinan belum tahu banyak tentang dia kok Ibu sudah tanya Kinan suka?!"

"Yaa, siapa tahu kalian cocok... Kapan kamu akan menikah?"

Aku tersenyum, "Kinan insya Allah akan menikah, Ibu... doakan yang terbaik yaa..."

Pertanyaan Ibu semacam tadi yang membuat hatiku kembali bergemuruh. Ya, aku pernah patah hati pada seorang pria yang membatalkan pertunangannya denganku demi pilihan tuan gurunya, tiga tahun lalu. Namun aku sangat bersyukur, pembatalan itu terjadi sebelum pernikahan dilangsungkan. Ternyata aku dan pria yang nurut pada tuan gurunya itu tak berjodoh. Hingga aku semakin yakin bahwa semua urusan di dunia, tak lepas tentang jodoh, Tuhan merahasiakan dan merencanakan dengan sangat sempurna.

Azka selalu menghadirkan canda saat pulang kantor, saat pikiranku lelah dan tenagaku terkuras seharian di kantor. Padahal, aku lihat garis mukanya juga lelah, lebih-lebih rambut gondrongnya yang tak karuan saat sore hari menambah wajah lelahnya. Namun dia selalu sumringah, seperti muka lelahnya hanya karena ter-setting default tetapi tak berpengaruh pada moodnya.

Aku sering merasa sepi saat tak bertemu dengannya beberapa hari karena tugas luar kotanya. Saat dia sudah kembali dan kami bertemu lagi rasanya tak ada kata lain yang mewakili perasaanku selain; bahagia. Ah... kenapa aku merasa terhibur dan senang dengan hadirnya?

"Kita nonton yuk, Ken...", ajaknya suatu Jum'at sore. Ken, panggilan darinya.

"Nonton... kapan?"

"Kamu bisa kapan? Sekarang?", tanyanya sambil menyeringai.

"Jangan, Ibu aku bisa darah tinggi kalau aku pulang malam. besok aja yaa...", tawarku.

"Oke, kita ketemu besok!" wajahnya semakin sumringah.

Tidak hanya nonton film, kami sering pergi di akhir pekan untuk berkuliner dari satu cafe ke warung lainnya, juga menikmati pagelaran seni, ke taman kota, membicarakan banyak hal. Azka... teman berbincang yang menyenangkan.

Satu tahun berlalu, aku dan dia semakin dekat dan semakin banyak yang menanyakan kedekatan kami. Teman-temanku kantor sudah mengenalnya karena dia sering menghampiriku ke kantor saat pulang. Ibu dan Ayah juga menyelidiki kedekatanku karena dia sering memberi buah tangan dari luar kota. Apa salah aku berteman dengannya? Apa harus karena dia akan menikahiku aku boleh dekat dengannya?

Akhirnya tak kunafikan, ternyata aku memang menaruh rasa padanya dan jawaban dari doa-doaku selalu mengarah padanya. Namun, aku tak mungkin memaksanya untuk mengaminkan tinanda dari doaku. Maka, aku memilih diam dan menunggu...

Hingga pada suatu siang, bulan ke lima belas aku mengenalnya, aku dan dia duduk berhadapan menikmati kosongnya cangkir kopi masing-masing, terdiam, dan mungkin sama-sama memendam tanya yang ingin diutarakan... Siang itu aku memang sudah berniat dan membulatkan tekad untuk membuka pembicaraan serius tentang kedekatan kami.

"Ken..."

"Ka..."

Kami bebarengan memanggil nama. Tertawa kecil.

"Kinan... kita udah lumayan lama dekat, kamu ngrasa aneh ga?" tanyanya.

"Aneh gimana?" Aku balik bertanya.

"Kamu percaya ga sama love at first sight?" tanyanya lagi. Aku tertawa. "Aku serius, Ken..." lanjutnya, memotong tawaku. Wajahnya berubah serius, benar-benar serius. Tak pernah kudapati wajah serius dari orang yang kukenal celelekan itu.

"Saat pertama kali aku tawarkan kursi bus ke kamu, aku udah suka sama kamu. Ga taunya kita bisa dekat." Azka menghela nafas panjang, "Entah lah, Ken... Aku ga ngerti harus ngomong apa buat nembak kamu atau apa lah namanya. Sekarang aku mau kamu tahu, aku mau nikahin kamu kalau kamu mau. Kamu mau ga, Ken?"

Aku terdiam dan ga nyangka dengan bahasa lugasnya itu.

"Kamu ga bisa jawab, ya?" dia tertawa kecil lalu kuikuti tawanya. "Tapi aku serius, Ken... beneran." Sorot matanya berharap jawaban.

"Azka..."

"Ya, gimana, Ken?"

Aku kagok, dia juga salah tingkah.

"Kamu mau jawaban singkat apa panjang?" tanyaku.

"Singkat aja, Ken... jawaban panjang kaya jawab soal uraian masih sekolah." dia masih bisa bercanda di saat seperti itu.


"Serius jawaban singkat aja yang kamu mau? Kamu ga pengen tahu alasan iya atau tidaknya aku nanti?" tanyaku.

"Engga." jawabnya singkat yang memantapkanku untuk menjawab pertanyaannya juga dengan jawaban yang singkat.

"Oke... Yes, I will, Ka..."

Dua bulan berlalu, kami sama-sama mensukseskan misi di keluarga kami, memuluskan jalan menuju rembug tua. Hingga akhirnya, hari ini, pagi tadi, dia bersama keluarganya datang bertemu keluarga besarku. Aku t'lah dilamar dan akan dinikahi olehnya bulan depan.

Tuhan, mudah dan lancarkan perjodohan-Mu ini...