Monday, December 3, 2018

Setelah Pertemuan Singkat

Siapa yang mengira kita akan bertemu pada hari itu? Di tengah keramaian orang yang bertukar sapa, pesonamu tetap saja begitu.

oiyaa, ini bukan soal reuni alumni yang digelar kemaren. penting.

Dari jauh aku melihatmu, gurat wajah yang semakin bijaksana dan senyummu yang semakin kuat beraura.

Kemudian, aku melihat bola matamu mencari-cari sementara keinginanku kuat untuk bertemu namun tak berani.

Dan kita bertemu, di sudut itu.
Berbinar mata jernihmu
Seraya mengusap kepalaku
(aah, cuma GR nya aku)

Dan hanya begitu,
Tanpa duduk bersama.
Seperti kelu
Tak mampu berkata apa-apa.

Setelah pertemuan singkat, aku semakin rindu!
(ya kan?! kata siapa obat rindu adalah bertemu? justru, semakin sakit!)

Sunday, September 2, 2018

Untuk Aida ❤

Menyentuh tangan Tala seakan menggenggam tangan gadis kecil 10 tahun yang lalu. Ndredeg dan mbrebes mili. Mengingat kala itu, meyakinkan diri akan kenyataan bahwa Bapak telah berpulang.

Gadis kecil yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya oleh kami akan kehilangan sosok ayah dengan cepat.

Gadis kecil yang senantiasa tersenyum menyambut uluran tangan orang-orang yang bersimpati, menahan emosi yang entah.

Gadis kecil yang membuatku malu karena aku terus sesenggukan kala itu. Gadis kecil yang menguatkanku... Hingga kini, melewati segala suka duka, bahagia juga lara. 

Gadis kecil yang kini sudah beranjak remaja memasuki tahun pertama di bangku kuliah. Adik ragil kami.

Dear, Aida... berjalanlah selalu dalam kebaikan, meliputi hidup dengan segala hal baik agar selalu dirahmati dan diberkahi Allah.

Kuatlah... Meski dihajar sini dan ditampar sana oleh keras dan lugasnya hidup, makin kuatlah... genggaman tangan mungilmu dulu telah menguatkan kami, maka yakinlah bahwa genggaman tangan Tuhan akan selalu menguatkanmu.

Jaga diri baik-baik, yaa... selalu jadi baik... Sebagaimana harapan Bapak dan Ibuk untuk kita semua. 

Kita akan selalu saling mengingatkan, saling menguatkan... 

We love you... :')

Saturday, August 25, 2018

Kapan?

Mungkin tulisan ini biasa saja, seperti biasanya Gibran bin Jokowi bilang. Bisa jadi tulisan ini ga penting, karena bukan masalah yang genting. Tapi yaudah lah, aku coba.. untuk berdamai dengan diri sendiri, menguatkan diri sendiri, yaa.. bela hati sendiri. wkwk

Pernah ga kamu merasa orang-orang di sekitar menanyakan suatu hal yang sama dan berulang-ulang? Aku pernah. Sering. Tahu kan pertanyaan tentang apa? Tentang masa depan yang aku susun... tapi belum terwujud.

Awalnya, merasa sangat terganggu. "Urusan kamu apa?" Hingga suatu saat Allah kasih lapang hati untuk menyadari dan aku bisa mencoba husnuzhan bahwa tujuan mereka baik dan itu adalah suatu bentuk perhatian. Dari yang "Apaan banget, sich" sekarang alhamdulillah sudah semakin santai dengan mengamini 'harapan gek ndang' dari mereka. Meskipun kadang masih yang aduh. Amini saja, Ad-du'a bir-Rumuuz kalau kata Pak Kiai.

Siapa yang ga mau mewujudkan keluarga yang penuh kebahagiaan? Suami yang selalu membersamai setiap hari, anak-anak yang menyemarakkan rumah, tentu saja aku ingin. Lebih-lebih saat melihat kebahagiaan yang dishare kawan-kawan seumuran, kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Iri? Iya. Tapi belum waktuku. Bukan karena ga mau, bukan juga karena banyak cincong. wkwk

Pernah suatu waktu sampai pada titik kenapa belum juga? Aku harus bagaimana?

Kemudian Sang Guru menenangkan; sabar, terus minta, perbaiki diri, tawakkal.

Karena kapan yang ini, tidak semudah menjawab:
1. Kapan mau makan seblak?
2. Kapan mau nonton minion?
3. Kapan mau beli cireng?

Yaudah, kapan yang ini dibawa santai tapi serius aja.

Etapi sekarang lebih terbebani saat ditanya kapan sidang tesis dari pada kapan nikah. wkwk