Tentang Aku, tentang Dia, atau juga tentang Kamu. Lalu, Kini, mungkin juga Nanti...
Wednesday, August 15, 2012
Monday, August 13, 2012
Anggur Asam :D
Aku biasa menyapanya melalui sebuah pesan singkat yang dalam
hitungan sepersekian detik sampai di tempatnya. Memang, aku tidak terlalu
sering menghubunginya walau sekedar menanyakan kabar, begitupun dengannya.
Sepekan, dua pekan, atau bahkan hampir selapanan
kita tak bertegur sapa. Ini ramuan rindu mungkin :D
Obrolan ringan melalui short
messages yang seringkali menambah bahan untuk kuceritakan pada anak-anakku
kelak dan pelajaran berharga yang tidak selalu bisa kudapat dari sekitarku,
menjadikannya recommended teacher untukku dan siapapun yang mau. Haha…
Saat itu, seperti biasa aku saling bertanya kabar dan
sedikit melaporkan masing-masing kegiatan ter-update. Kemudian hobiku untuk minta cerita pun kembali dikabulkan.
Kali ini ceritanya sungguh membuatku terperangah, seberapa dalam dia bisa
melihatku meski kita tengah berjarak jauh?! (atau karena hatiku yang lagi banget-banget
sensitifnya kali yaa?! haha)
Awalnya dia bertanya, “Tahu
ga’ psikologi anggur asam?” karena aku jawab “Tidak.” dia pun mulai bercerita seperti seorang ayah :D
-dengan mengubah beberapa ejaan dari pesan singkatnya-
Dahulu kala ada seekor musang yang menemukan sebuah anggur di bawah pohon. Setelah dimakan ternyata dia merasakan kelezatan anggur tersebut, rasanya manis. Dia pun berharap buah anggur yang ada di atas pohon di dekatnya bisa dia ambil karena dia yakin rasanya pasti sama dengan yang sudah dia makan. Setelah lama musang itu berusaha mendapatkan anggur tersebut dan tidak juga berhasil, akhirnya dia pun berkata “Ah, paling juga anggur di atas itu asam rasanya!”
Dahulu kala ada seekor musang yang menemukan sebuah anggur di bawah pohon. Setelah dimakan ternyata dia merasakan kelezatan anggur tersebut, rasanya manis. Dia pun berharap buah anggur yang ada di atas pohon di dekatnya bisa dia ambil karena dia yakin rasanya pasti sama dengan yang sudah dia makan. Setelah lama musang itu berusaha mendapatkan anggur tersebut dan tidak juga berhasil, akhirnya dia pun berkata “Ah, paling juga anggur di atas itu asam rasanya!”
Well, saat aku tanya “Apa
pesan moralnya?” dia pun kembali berceloteh…
“Kamu tahu lagu Adele
yang berjudul Someone Like You?’”
O ow… Let’s talk about love :D
“Dalam hubungan cinta
seseorang terkadang hubungan hancur di tengah jalan. Tuk bertahan hidup dia
harus berkata layaknya musang tadi, “Ah, dia pasti ga sebaik yang aku
bayangkan. Kalaupun dia memang baik, aku akan menemukan someone like him/her.”
Nah, itulah lagu Adele yang berjudul anggur asam. Hehe… “
Seketika itu aku tersindir dengan guyonannya itu. Oke, kita
sedikit mengulas tentang perjalanan hidup dan cinta.
Yap, dia benar. Saat cerita romansa kita tidak berujung
indah, kita tidak seharusnya memelihara galau (Sebenarnya apa sih galau itu? Go Always Listening Always Understanding?
Haha), atau bahkan mematikan energi hidup kita hanya karena putus cinta.
Wealah, Ngger… bikin hidup terasa semakin
tak berarti saja kalau gitu. We have to walk forward, on and on…
Memang tak mudah untuk terus melangkah ke depan tanpa
mempedulikan masa lalu. Ups, keliru,
tepatnya… lebih baik kita jadikan masa lalu sebagai pelajaran dan koleksi
pengalaman. Toh, setiap apapun yang terjadi pastinya mempunyai sisi positif dan
negatif, mana yang lebih dimenangkan ya tergantung si aktor.
Namun, jika -mentok
banget- terasa berat dan sangat tidak menenangkan, lebih baik buang spion kanan
kiri sehingga kita tidak melihat ke belakang :D
Bagaimanapun, bagiku, masa lalu bukanlah bagian yang harus
dilupakan. Dia merupakan a part of life yang sudah terlukis oleh tangan kita
dan tidak bisa kita hapus. Kita hanya bisa menambahkan warna agar lukisan
tersebut terlihat indah. Berdamai dengan masa lalu adalah sebuah solusi agar kita
aku tidak memusuhi apa dan siapa yang meng-anyel-kan
hati di ruang dan waktu yang telah lalu.
Itu tidak mudah! Aku harus membuat perjanjian khusus dengan
pikiran dan perasaanku agar tidak terjadi pertengkaran dahsyat yang bisa
merugikanku sendiri, juga selalu meminta kepada Yang Maha Bijaksana agar aku
dilimpahi kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan menyikapi
permasalahan serta kebaikan budi pekerti. (Ngomong
opo tho iki?)
Akhirnya, saat kehidupan kita sedikit terusik oleh urusan
hati dan percintaan yang justru menyakitkan (koyo to; ditinggal nikah, diduakan, dikhianati, ga cocok lagi,
misunderstanding mulu, miscommunication, dll) marilah mengumandangkan lagu
Adele yang berjudul Anggur Asam. #eh...
![]() |
| Bangun dan teruslah hidup:) |
Sunday, August 12, 2012
Aku Menjagamu, Dia Selalu Menjagamu
Namaku Aini. Nama yang diberikan oleh kedua orang
tuaku yang buta. Nama yang indah bagi mereka, menjadi mata dan penyejuk mata, begitu
ujar mereka. Bagaimanapun orang lain memandang hina kedua orang tuaku karena
kebutaannya, aku selalu bersyukur memiliki mereka yang selalu melihat keindahan
semesta dan keangkuhan dunia dengan mata hatinya yang tulus.
Aku tak lama hidup bersama seorang Bapak, usiaku
saat itu belum cukup untuk menjadi murid sekolah dasar. Bapak kehilangan nyawa
karena tertabrak mobil yang melaju kencang saat ia ingin menyebrangi jalan.
Sejak saat itu, aku tak mau melepas Ibuku bepergian sendiri. Aku selalu
menemani Ibu saat ingin keluar rumah. Hingga akhirnya aku sudah cukup umur
untuk bersekolah, aku mulai belajar melepasnya dengan memaksa tongkat yang
selalu ia bawa untuk selalu menjaganya.
Aku masih sangat ingat bagaimana kekonyolanku saat
kecil dulu, selalu berbicara dengan tongkat besi Ibu sebelum aku berangkat ke
sekolah. Akan mengutuk tongkat itu kalau terjadi sesuatu pada Ibu dan tidak mau
lagi berteman dengannya bahkan akan membuangnya. Aku menganggap tongkat itu
mempunyai nyawa layaknya manusia. Sungguh, hal itu lucu saat aku mengingatnya
sekarang ini…
Aku sudah berseragam putih abu-abu sekarang ini.
Suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Rizki yang diberikan Tuhan kepada
keluargaku meyakinkanku kembali bahwa Tuhan Maha Pemberi, memberikan rizki
kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ibuku yang berperan menjadi Bapak
sekaligus mampu menyekolahkanku hingga jenjang sekolah menengah atas sekarang
ini.
Hari ini sepulang sekolah, di angkutan umum aku
duduk berdampingan dengan seorang Ibu paruh baya, mungkin seumuran Ibuku,
membawa tongkat yang tak jauh beda dengan milik Ibuku, sesekali matanya
berkedip berusaha membuka, tetapi tak kulihat bola matanya. Ingatanku tiba-tiba
berada di suatu masa dulu…
Aku, Ibu, dan tongkatnya, duduk tepat di belakang
supir sebuah angkutan umum. Aku masih suka memakai jepit rambut pita, mungkin
juga masih ingusan, masih belum menyadari bahwa tongkat itu tidak bernyawa. Aku
hendak mengantarkan Ibu ke salah satu klinik pengobatan karena satu minggu
terakhir Ibu mengeluhkan matanya yang terasa sakit.
Di angkutan umum tersebut banyak penumpang yang
memperhatikanku dan Ibuku. Aku yang cuek dengan tatapan mereka terus saja
bernyanyi sesukaku, sesekali menggoyangkan badanku seolah mengikuti irama musik
khayalanku saat itu. Ibuku terus saja mencubit tanganku yang menggenggam uang
dua ribuan untuk ongkos, mengingatkanku agar tidak berisik dan memperhatikan
jalan agar tidak lena. Ya, setiap kali bepergian dengan Ibuku akulah yang
menjadi penunjuk jalannya.
Hampir saja aku lupa untuk lapor ke supir untuk
berhenti, untung saja bapak supir ingat di mana kami harus turun karena saat
naik Ibuku sudah bilang kepadanya kemana tujuan kami. Ibuku turun terlebih
dahulu dibantu penumpang yang duduk di dekat pintu. Saat aku menyerahkan ongkos
kepada supir, dia bilang, “Udah ga usah.
Dibawa aja, Neng. Hati-hati nyebrangnya ya.” Sejak itu, aku menyadari satu
hal bahwa tidak semua orang jahat kepada Ibuku. Tidak semua orang akan menghina
kebutaan Ibuku.
Lamunanku tersadar saat Ibu buta tadi hendak turun.
Aku tidak berreaksi cepat hingga Ibu tersebut sudah bisa menepi ke ruas jalan.
Dari kaca jendela mobil aku melihatnya menyebrang jalan dengan selamat.
Saat aku tidak bisa selalu menemani dan menjaga
Ibuku, aku yakin Tuhan Yang Maha Menjaga selalu menjaganya…
Subscribe to:
Posts (Atom)




