Masih berangan sama
Di antara
Angin bersuara
Dingin tak bermuara
Pelan mendambakan
Lekas kembali ke Pelukan
Tuhan
Tentang Aku, tentang Dia, atau juga tentang Kamu. Lalu, Kini, mungkin juga Nanti...
Monday, February 6, 2012
Monday, January 2, 2012
My December, 2011
Ingin merasakan masa2 lalu yang tidak kuingat; tengkurap, memasukkan jari2 ke mulut, merangkak..
December 9 at 4:51pm
Kehilangan itu... Karena kita pernah merasa memilikinya. [MemilikiKehilangan]
December 11 at 11:52am
Very grateful to have such best friend, like SISTERS. *bighug
December 14 at 4:56pm
Malam Jum'at, rinduku slalu dahsyat... [Dalem kangennn kalih njenengan, Bapak]
December 15 at 8:15pm
Biarlah Tuhan mengiyakan pintamu semauNYA... [bukankah jika ada yang meminta kepadamu, kau memberi sesukamu bahkan bisa jadi tidak sama sekali?!]
December 16 at 5:45pm
Perbuatan baik kepada orang lain, tak perlu diiringi harapan orang lain akan berbuat baik kepada kita. [Tuhan slalu buaik kepada kita]
December 17 at 8:47pm
Merindukan kerinduan... [kuharap rindu ini tak mati agar tak sampai tiada lagi]
December 18 at 12:57pm
Ketika kita lahir, kita pecah sunyi dengan tangis. Ketika sedang getir, kurasa tak apa ada tangis. Sangat membahagiakan, Ada yang slalu tak membiarkan kita sendirian. [Lâ tahzan inna Allah ma'anâ]
December 19 at 4:22pm
Aku masih ingin untuk selalu bisa memahami teduh indah panoramamu juga riak amuk ombakmu, percayalah... [Ijinkan aku menepi dulu, Laut]
December 21 at 4:34pm
Ada surat dari negeri di awan; baca pelan agar tepat dalam memahami pesan. [Tuhan, kupinta lagi kekuatan]
December 23 at 2:36pm
Tak bisa mengurangi rindu dengan tidak memikirkanmu..
December 27 at 9:25pm
Ada hal-hal yang kuanggap buruk, adalah karena aku belum bisa membaca kehidupan dengan baik. [Try to understand ‘makna hikmah’]
December 30 at 8.00 pm
December 9 at 4:51pm
Kehilangan itu... Karena kita pernah merasa memilikinya. [MemilikiKehilangan]
December 11 at 11:52am
Very grateful to have such best friend, like SISTERS. *bighug
December 14 at 4:56pm
Malam Jum'at, rinduku slalu dahsyat... [Dalem kangennn kalih njenengan, Bapak]
December 15 at 8:15pm
Biarlah Tuhan mengiyakan pintamu semauNYA... [bukankah jika ada yang meminta kepadamu, kau memberi sesukamu bahkan bisa jadi tidak sama sekali?!]
December 16 at 5:45pm
Perbuatan baik kepada orang lain, tak perlu diiringi harapan orang lain akan berbuat baik kepada kita. [Tuhan slalu buaik kepada kita]
December 17 at 8:47pm
Merindukan kerinduan... [kuharap rindu ini tak mati agar tak sampai tiada lagi]
December 18 at 12:57pm
Ketika kita lahir, kita pecah sunyi dengan tangis. Ketika sedang getir, kurasa tak apa ada tangis. Sangat membahagiakan, Ada yang slalu tak membiarkan kita sendirian. [Lâ tahzan inna Allah ma'anâ]
December 19 at 4:22pm
Aku masih ingin untuk selalu bisa memahami teduh indah panoramamu juga riak amuk ombakmu, percayalah... [Ijinkan aku menepi dulu, Laut]
December 21 at 4:34pm
Ada surat dari negeri di awan; baca pelan agar tepat dalam memahami pesan. [Tuhan, kupinta lagi kekuatan]
December 23 at 2:36pm
Tak bisa mengurangi rindu dengan tidak memikirkanmu..
December 27 at 9:25pm
Ada hal-hal yang kuanggap buruk, adalah karena aku belum bisa membaca kehidupan dengan baik. [Try to understand ‘makna hikmah’]
December 30 at 8.00 pm
Tuesday, December 13, 2011
Yang Kemudian Kutulis
Hari ini… Lovable!
Setelah menghabiskan waktu seharian, tuanku selalu menyempatkan waktu untuk menyapaku walau dengan sisa-sisa tenaga dan lelahnya. Sekedar menuliskan satu kata di lembaranku seperti “Perfect”, “Lelah”, “Ah…”, atau bercerita panjang tentang hembusan nafasnya seharian.
Aku selalu mendengar apapun yang ia tuliskan, tanpa penolakan sedikitpun. Umpatan-umpatan yang ia tujukan kepada teman-temannya -musuhnya, kurasa lebih tepat- pun aku terima. Luapan kebahagiaan atau kesedihannya bagiku adalah warna untuk diriku.
Ia lebih senang bercerita kepadaku dibanding dengan makhluk bernyawa atau situs jejaring sosial yang semakin marak. Meskipun ia tahu bahwa ia tak akan mendapat apapun dariku baik cacian akan kebodohannya atau pujian atas kebaikannya, aku tak akan mampu menyampaikan solusi saat ia mengadu kesah kepadaku, aku tak mampu menjadi teman bertukar pikiran, aku hanya mendengar tanpa ada kata kemudian. Aku teman bisunya.
Aku sangat mengerti keadaannya setiap waktu. Tak sedetik pun terlewat, aku selalu melihatnya saat ia berada di ruangan ini. Aku berada di antara jajaran koleksi bukunya yang lain, satu rak lebih rendah dari kitab suci yang rajin ia baca. Setiap usai membelaiku dengan tulisan, ia selalu mengembalikanku ke tempat asal. Lepas dari ruang ini, setidaknya ada kata-kata yang ia laporkan kepadaku dan mewakili keadaan hati dan fisiknya. Kira-kira seperti itu.
Keseringannya memanjakanku membuatku semakin mencintainya. Bagaimana tidak, ketulusannya menjadikanku teman, memilikiku, telah menghadirkan rasa yang luar biasa indahnya pada diriku. Ia begitu mengerti akan arti memiliki.
Satu hal yang aku inginkan dari tuanku yang baik, aku harap ia tak melupakanku meskipun nantinya ia tak lagi sendiri karena ada nyawa lain yang mendampingi hidupnya. Setidaknya ia tetap menempatkanku tak jauh darinya. Dan tak ayal, ketika ia kembali membuka lembaran-lembaranku, ia akan tersenyum getir, senang, atau entah. Aku lah yang akan mengingatkannya kepada memori lalu, yang sempat ia abadikan pada diriku.
Memories are never dies, although is already past…
Retrieving old memories is almost interesting…
Setelah menghabiskan waktu seharian, tuanku selalu menyempatkan waktu untuk menyapaku walau dengan sisa-sisa tenaga dan lelahnya. Sekedar menuliskan satu kata di lembaranku seperti “Perfect”, “Lelah”, “Ah…”, atau bercerita panjang tentang hembusan nafasnya seharian.
Aku selalu mendengar apapun yang ia tuliskan, tanpa penolakan sedikitpun. Umpatan-umpatan yang ia tujukan kepada teman-temannya -musuhnya, kurasa lebih tepat- pun aku terima. Luapan kebahagiaan atau kesedihannya bagiku adalah warna untuk diriku.
Ia lebih senang bercerita kepadaku dibanding dengan makhluk bernyawa atau situs jejaring sosial yang semakin marak. Meskipun ia tahu bahwa ia tak akan mendapat apapun dariku baik cacian akan kebodohannya atau pujian atas kebaikannya, aku tak akan mampu menyampaikan solusi saat ia mengadu kesah kepadaku, aku tak mampu menjadi teman bertukar pikiran, aku hanya mendengar tanpa ada kata kemudian. Aku teman bisunya.
Aku sangat mengerti keadaannya setiap waktu. Tak sedetik pun terlewat, aku selalu melihatnya saat ia berada di ruangan ini. Aku berada di antara jajaran koleksi bukunya yang lain, satu rak lebih rendah dari kitab suci yang rajin ia baca. Setiap usai membelaiku dengan tulisan, ia selalu mengembalikanku ke tempat asal. Lepas dari ruang ini, setidaknya ada kata-kata yang ia laporkan kepadaku dan mewakili keadaan hati dan fisiknya. Kira-kira seperti itu.
Keseringannya memanjakanku membuatku semakin mencintainya. Bagaimana tidak, ketulusannya menjadikanku teman, memilikiku, telah menghadirkan rasa yang luar biasa indahnya pada diriku. Ia begitu mengerti akan arti memiliki.
Satu hal yang aku inginkan dari tuanku yang baik, aku harap ia tak melupakanku meskipun nantinya ia tak lagi sendiri karena ada nyawa lain yang mendampingi hidupnya. Setidaknya ia tetap menempatkanku tak jauh darinya. Dan tak ayal, ketika ia kembali membuka lembaran-lembaranku, ia akan tersenyum getir, senang, atau entah. Aku lah yang akan mengingatkannya kepada memori lalu, yang sempat ia abadikan pada diriku.
Memories are never dies, although is already past…
Retrieving old memories is almost interesting…
Subscribe to:
Posts (Atom)