Friday, January 4, 2019

Setinggi-Tingginya Terbang

Waktu kecil, tiap mengunjungi toko mainan aku akan menyisir rak mainan mencari miniatur pesawat. Memandangi, bergumam sendiri, mengagumi betapa kerennya pesawat warna-warni. Alih-alih minta dibelikan mainan.

Mau jadi pilot. Jawabku tiap kali ada yang tanya kenapa aku suka mainan pesawat. Kata Ibu, mataku selalu berbinar saat aku bermain, sambil mengayunkan mainan di tanganku, aku akan teriak, "Terbang tinggi!", kemudian tersenyum. Ayah akan menimpali, "Wah, hebat sekali! Pesawat anak Ayah bisa terbang sangat tinggi!", kami tertawa, senang.

Dulu bagiku, seorang pilot adalah orang terhebat yang bisa menerbangkan burung besi keliling dunia. Bagaimana tidak kukagumi sosok pilot berseragam putih dengan topi di kepalanya, berjalan dengan gagahnya, dan terbang bertandang ke langit biru? Itu lebih keren dari tokoh animasi yang terbang dengan tangan mengepal ke atas.

Beranjak remaja, cita-cita teman-temanku berubah dari taxi driver menjadi dokter, dari spiderman menjadi fireman, dari pramugari menjadi polisi, dan macam lainnya, cita-citaku tetap sama. Pilot. Menjadi orang yang bisa terbang kemanapun.

"Ga mau berubah juga, Nak?", tanya Ibu setelah mendengar cerita tentang teman-temanku.

"Aku masih mau jadi pilot.", kujawab dengan tetap fokus menyusun lego pesawat.

"Menjadi pilot tentu kebanggaan untuk Ayah dan Ibu. Ayah akan bangga melihatmu berkawan awan, terkadang melawannya. Seberapapun seringnya kamu mengunjungi langit, sempatkan untuk duduk beralas tanah.

Ayah Ibu akan selalu bangga padamu selama kamu baik, apapun jadinya kamu. Setinggi apapun ilmu yang kamu miliki, jangan pernah tidak untuk rendah hati."

Pesan itu diakhiri dengan potongan ayat yang dibaca Ayah. Saat itu aku hanya mengangguk-angguk. Mencoba faham.

Dua puluh tahun berlalu. Hari ini, aku akan melakukan perjalanan dinas ke negara sebelah. Sebelum terbang, kudaras beberapa ayat untuk menenangkan hati, kulafalkan ayat yang menjadi pesan Ayah dulu untuk mengingatkan diri.
(وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ)
"Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui" [Yusuf 76]

Thursday, January 3, 2019

Nasihat Pak Tua

Ada seseorang yang seringkali menghabiskan waktunya untuk memikirkan orang lain. Selalu mencari cara untuk membantu yang susah meski dirinya sendiri tengah dalam kesulitan.

Saat seorang kawan meminta bantuan kepadanya untuk yang kesekian kalinya, ia tak pernah menolak, dan dalam hitungan yang sama ia selalu menolongnya. Bahkan lebih dari yang diminta, ia selalu khususkan doa untuk mereka. Tidak hanya satu atau dua kawan, yang lama atau yang baru, atas segala permintaan bantuan raga juga materi.

Tak jarang, kebaikannya disalahartikan oleh yang lain. Dikira hanya mencari muka, dikira membantu dengan pamrih agar dipuja dan dituankan. Sehingga banyak hinaan, cacian, pun fitnah.

Namun nyatanya, ia tak pedulikan omongan orang. Semakin ia disakiti, semakin panjang doa yang ia langitkan untuk kebaikan hidup mereka yang menyakiti.

Ia lakukan semua kebaikan meski tak ada yang tahu. Selayaknya ia mampu meniatkan semua perbuatan baik hanya karena Allah. Hingga ia tak risau atas cela orang lain.

Sore itu, keluarga kecil berkumpul dalam sebuah ruangan membahas celaan yang sungguh melukai hati anak-anak Pak Tua.

"Sudah lah, Pak! tidak usah Bapak mati-matian membantu mereka kalau pada akhirnya mereka hina Bapak", bujuk putra sulungnya.

"Kami ga bisa lihat Bapak diginiin. Sakit hati kami, Pak!", lanjut putra bungsunya.

Pembicaraan tetap berlanjut sementara Pak Tua serius mendengarkan semua pembelaan anak-anaknya sambil memejamkan mata, sesekali menghela nafas panjang, namun dalam hati ia terus berdzikir.

"Pak, kita harus balas..."

"Cukup!", Potong Pak Tua saat anak perempuan satu-satunya angkat bicara.

"Biarkan Bapak menjalani ini semua. Barangkali ini ujian untuk keikhlasan Bapak, akankah Bapak kecewa atau marah.", Pak Tua memandangi anak-anaknya satu per satu. Semua terdiam.

"Akhlak buruk itu... muncul dari hati yang buruk. Istighfar!", Pak Tua melirihkan suaranya.

Semua menerawang, teringat pada wejangan Pak Tua suatu waktu dulu, mengutip sebuah ayat;
(هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)
[Ar-Rahman 60]

Wednesday, January 2, 2019

Gara-Gara Terserah

"Mas, mau ngunjuk apa?", tanya istriku.

"Terserah", jawabku singkat. Setelah sebelumnya kuminta dia membuatkan minuman hangat.

Tak lama berselang, Denok, istriku, datang membawa segelas air putih hangat. Lalu ia menyusulku duduk berdampingan di kursi beranda rumah, merasakan sisa-sisa hujan semalam.

Aku sedikit menahan kaget. Kulihat istriku menangkap keanehan wajahku, secepat mungkin aku tersenyum padanya.

"Ada yang salah, mas?", tanyanya. Curiga.

"Engga... makasih yaa...", senyumku semakin mengembang, geli.

Berdua saling bertukar cerita, sesekali menyapa tetangga yang lewat depan rumah. Mengenalkan istriku kepada tetangga yang kemaren berhalangan hadir dalam pesta ngunduh mantu.

Tak lama, Ibuku keluar menengok kami berdua di depan rumah

"Lho... belum wedangan tho, Le?" Sapa Ibuku, lalu masuk kembali ke dalam rumah.

Kulihat wajah istriku yang bingung, cemas, dan takut. Kusunggingkan senyum dan kembali bercerita tentang masa kecilku.

"Iki wedange... kita coba pakai gula batu ini. Oleh-oleh dari teman kuliah Ibu, kemaren rawuh ke mantenanmu, Le.. Nok... Ternyata sampai sekarang, di daerah Brebes kalau wedangan isuk ya pakai gula batu ngene iki", Ibuku datang membawa nampan berisi gelas-gelas wedang teh dan beberapa plastik kecil gula batu.

"Nok... kita bikin pisang goreng sebentar, ya... tinggal goreng, Ibu sudah bikin adonannya", ajak Ibuku pada menantu barunya.

"Injih, Bu...", jawab istriku cepat, agak terkesiap.

Sebelum mengikuti langkah Ibuku yang sudah masuk kembali ke dalam rumah, Denok menoleh padaku.

"Mas, ternyata kalau pagi njenengan wedangan teh gini ya?!" wajahnya panik, antara malu dan merasa bersalah. Mungkin sambil menahan kalimat setelahnya; kenapa ga kasih tau aku?! .