Thursday, January 3, 2019

Nasihat Pak Tua

Ada seseorang yang seringkali menghabiskan waktunya untuk memikirkan orang lain. Selalu mencari cara untuk membantu yang susah meski dirinya sendiri tengah dalam kesulitan.

Saat seorang kawan meminta bantuan kepadanya untuk yang kesekian kalinya, ia tak pernah menolak, dan dalam hitungan yang sama ia selalu menolongnya. Bahkan lebih dari yang diminta, ia selalu khususkan doa untuk mereka. Tidak hanya satu atau dua kawan, yang lama atau yang baru, atas segala permintaan bantuan raga juga materi.

Tak jarang, kebaikannya disalahartikan oleh yang lain. Dikira hanya mencari muka, dikira membantu dengan pamrih agar dipuja dan dituankan. Sehingga banyak hinaan, cacian, pun fitnah.

Namun nyatanya, ia tak pedulikan omongan orang. Semakin ia disakiti, semakin panjang doa yang ia langitkan untuk kebaikan hidup mereka yang menyakiti.

Ia lakukan semua kebaikan meski tak ada yang tahu. Selayaknya ia mampu meniatkan semua perbuatan baik hanya karena Allah. Hingga ia tak risau atas cela orang lain.

Sore itu, keluarga kecil berkumpul dalam sebuah ruangan membahas celaan yang sungguh melukai hati anak-anak Pak Tua.

"Sudah lah, Pak! tidak usah Bapak mati-matian membantu mereka kalau pada akhirnya mereka hina Bapak", bujuk putra sulungnya.

"Kami ga bisa lihat Bapak diginiin. Sakit hati kami, Pak!", lanjut putra bungsunya.

Pembicaraan tetap berlanjut sementara Pak Tua serius mendengarkan semua pembelaan anak-anaknya sambil memejamkan mata, sesekali menghela nafas panjang, namun dalam hati ia terus berdzikir.

"Pak, kita harus balas..."

"Cukup!", Potong Pak Tua saat anak perempuan satu-satunya angkat bicara.

"Biarkan Bapak menjalani ini semua. Barangkali ini ujian untuk keikhlasan Bapak, akankah Bapak kecewa atau marah.", Pak Tua memandangi anak-anaknya satu per satu. Semua terdiam.

"Akhlak buruk itu... muncul dari hati yang buruk. Istighfar!", Pak Tua melirihkan suaranya.

Semua menerawang, teringat pada wejangan Pak Tua suatu waktu dulu, mengutip sebuah ayat;
(هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)
[Ar-Rahman 60]

Wednesday, January 2, 2019

Gara-Gara Terserah

"Mas, mau ngunjuk apa?", tanya istriku.

"Terserah", jawabku singkat. Setelah sebelumnya kuminta dia membuatkan minuman hangat.

Tak lama berselang, Denok, istriku, datang membawa segelas air putih hangat. Lalu ia menyusulku duduk berdampingan di kursi beranda rumah, merasakan sisa-sisa hujan semalam.

Aku sedikit menahan kaget. Kulihat istriku menangkap keanehan wajahku, secepat mungkin aku tersenyum padanya.

"Ada yang salah, mas?", tanyanya. Curiga.

"Engga... makasih yaa...", senyumku semakin mengembang, geli.

Berdua saling bertukar cerita, sesekali menyapa tetangga yang lewat depan rumah. Mengenalkan istriku kepada tetangga yang kemaren berhalangan hadir dalam pesta ngunduh mantu.

Tak lama, Ibuku keluar menengok kami berdua di depan rumah

"Lho... belum wedangan tho, Le?" Sapa Ibuku, lalu masuk kembali ke dalam rumah.

Kulihat wajah istriku yang bingung, cemas, dan takut. Kusunggingkan senyum dan kembali bercerita tentang masa kecilku.

"Iki wedange... kita coba pakai gula batu ini. Oleh-oleh dari teman kuliah Ibu, kemaren rawuh ke mantenanmu, Le.. Nok... Ternyata sampai sekarang, di daerah Brebes kalau wedangan isuk ya pakai gula batu ngene iki", Ibuku datang membawa nampan berisi gelas-gelas wedang teh dan beberapa plastik kecil gula batu.

"Nok... kita bikin pisang goreng sebentar, ya... tinggal goreng, Ibu sudah bikin adonannya", ajak Ibuku pada menantu barunya.

"Injih, Bu...", jawab istriku cepat, agak terkesiap.

Sebelum mengikuti langkah Ibuku yang sudah masuk kembali ke dalam rumah, Denok menoleh padaku.

"Mas, ternyata kalau pagi njenengan wedangan teh gini ya?!" wajahnya panik, antara malu dan merasa bersalah. Mungkin sambil menahan kalimat setelahnya; kenapa ga kasih tau aku?! .

Tuesday, January 1, 2019

Bebas

Subuh tadi, suara yang terdengar dari pengeras suara mushala membuat resah semua orang. Bukan karena jeleknya suara dari pengeras suara yang telah tua usianya, namun suara dari pengajian ba'da subuh yang terdengar menggebu-gebu dan memekikkan telinga.

"Mulutnya terlalu dekat dengan mic." ujar salah seorang jama'ah.

"Bicaranya sambil teriak. Di sawah juga kita ngomong biasa aja ga usah teriak." sambung yang lainnya. Kesal.

"Sudah... nanti kita sampaikan saja ke pengurus mushala. Pak Ustadz itu isi ceramahnya bagus, tapi penyampaiannya saja yang kurang cocok dengan masyarakat desa kita." seorang bijak menenangkan.

Sebebas-bebasnya kita boleh berbicara dan berperilaku, ternyata ada aturan yang harus kita perhatikan. Ada adab yang telah diajarkan turun temurun sebagai resep bersinggungan dengan sesama.

Melalui kalam-Nya dan dawuh utusan-Nya semestinya kita bisa mengejawantahkan pedoman hidup. Jika belum mampu memahami semua dawuh, banyak sekali Kiai dan guru-guru yang dari mereka kita bisa ngangsu kaweruh agar bisa paham lakon urip harus seperti apa.

Kita hidup bebas, lepas, terserah, namun bukan berarti tak terarah, bukan tak beraturan. Ada batas-batas yang tidak boleh kita lewati dan selalu ada tali temali untuk pegangan kita saat kita terlalu lepas berlari.

Jadi, kita bisa 'bebas' untuk beberapa hal, bukan semua hal.
Mau piknik kemana kita? Bebas.
Mau makan apa? Apa aja.
Shalat Subuh dijama' aja yaa? Terserah. Nah... ga bisa bebas kan? wkwk

Ingatkan saya yaa kalau saya terlalu lepas.
waAllahu a'lam.