Wednesday, August 22, 2018

Mau Pindah Rumah?

Seseorang menyapa, menanyakan kabar, dan sesekali mengusap debu yang menempel di pagar rumah. Iya. Sudah sangat lama rumah ini tak dihuni. Ditengok sih iya tapi hanya di teras rumah, tidak bisa masuk karena lupa disimpan di mana kuncinya.

Lalu kepikiran, harus kah pindah rumah? Meninggalkan semua barang di rumah lama? Toh, itu barang lawas. wkwk. Atau kalau ga rela meninggalkannya, dobrak saja pintu rumahnya dan aku bisa ambil semua barang untuk dibawa ke rumah baru. Belum ketemu juga kuncinya.

Survey beberapa rumah, menggiurkan! Modern, lebih keren dari rumah lama. Udah, pindah aja lagian belum ketemu juga pintunya.

Dan memang akan mudah saja memindahkan semua barang walaupun ga ketemu kunci rumahnya. Tapi ternyata, bagiku barang-barang itu tidak hanya sesuatu yang bisa disentuh. Ternyata rumah lama; semua barang-barang yang ada di dalamnya adalah istimewa bukan karena lawasnya namun karena kekuatan perjuangan yang meski kuno tapi bermakna, meski akan mengingatkan luka tapi akan menguatkan jiwa, meski terasa menyesakkan hati saat mengingatnya tapi akan melapangkan hati kedepannya. wkwk.

Akhirnya, welkambektodeblog! Yaudah gapapa malu-maluin kalau baca tulisan lawas, tapi biarlah buat ketawa-tawaan.

Ketemu kuncinya? Tidak!
Terus gimana bisa masuk? Bisa aja!
Allah yang kasih jalan.

wkwk.

Saturday, June 4, 2016

Untuk Sebuah Nama

Saat tak terdengar lagi suara tegasmu
Kami semakin rindu nasihat-nasihatmu
Saat tak tercium lagi wangi khasmu
Semakin ingin kami lihat kembali laku bagusmu

Masih banyak yang ingin kami tahu darimu
Namun hanya kisah teladan masa lalumu
Dan bayang kenangan bersamamu
Yang mampu sedikit mengobati rindu padamu

Kepada tatapan mata yang meneduhkan
Senyum dan canda yang membahagiakan
Jiwa yang selalu menenteramkan
Kini rindu kulabuhkan tanpa pertemuan

Tenanglah engkau dalam kedamaian
Berbahagialah engkau dalam pelukan Tuhan

Tuesday, December 8, 2015

Faith and the City


Hanum dan Rangga kembali mengajak pembaca hanyut dalam kisah yang dituangkan dalam novel terbarunya, Faith and the City. Philipus Brown, Azima Husein, Sarah, dan Layla kembali menemani perjalanan Hanum dan Rangga. Novel ini menyajikan sebuah teka-teki sebagai pembukanya, mengajak pembaca untuk tidak berhenti melumat kata demi kata dan lembar demi lembar.

Melanjutkan sebuah paparan akan Islamophobia, Hanum dan Rangga menyajikan kisah Faith dan Alex yang membuat pembaca ikut tergerus emosinya, antara kesal, haru, dan bahagia. Teka-teki yang disuguhkan sangat rapi dan tentu saja membuat pembaca semakin bertanya-tanya tak sabar menemukan jawaban dalam setiap lembarnya.

Cerita tentang Faith menyuguhkan betapa dunia merupakan kumpulan puzzle yang satu saja bagiannya hilang akan membuat sebuah gambar tak dapat ditangkap pesannya. Sehebat apapun disembunyikannya sebuah kebohongan, kebenaran akan selalu bersemayam pada tempatnya.

Novel ini lebih terasa romantis dari novel-novel sebelumnya. Melalui kisahnya, Hanum dan Rangga berupaya menuturkan betapa dalam sebuah pernikahan membutuhkan sebuah kepercayaan satu sama lain. Dalam cobanya di kehidupan dunia, seringkali tujuan pernikahan dipertaruhkan dengan tujuan jiwa berbelut keegoisan. Seringkali manusia dicoba dengan godaan ambisi akan gelimang harta, kekuasaan, bahkan pujian dan kebanggan sekalipun. Lamaran Cooper kepada Hanum dengan iming-iming karir yang dalam sekedipan mata bisa melejit, bersamaan dengan kejar pening disertasi Rangga yang harus diselesaikan, merupakan awal kisah rumah tangga jembatanAzima terkoyak. Betapa kuatnya kepercayaan yang dibangun Hanum dan Rangga atas nama kesabaran, ketulusan, dan cinta yang dipupuk membuat mereka kembali memperjuangkan tujuan kebersamaan mereka dalam kisah klimaksnya.

Atas nama semua iming-iming dunia seorang muslim tak ubahnya manusia yang menghamba pada dunia yang tak abadi, jika tidak diimbangi dengan kekuatan iman yang bertambah dan berkurangnya bisa juga disebabkan oleh orang lain. Faith and the City mengingatkan kita betapa hebatnya kita dalam berkarya, betapa menyilaukannya gemerlap kota, semua itu tidak mungkin kita gapai tanpa kuasa Allah yang selalu Mendengar doa yang dirapal dan Melihat usaha yang diperjuangkan.

Dan tahukah kalian, mba Hanum dan mas Rangga? Pesan religi yang kalian suguhkan dalam novel, yang diperjelas melalui epilog sungguh menusuk jiwa. Matur nuwun, matur nuwun sanget...

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS. Maryam: 96)

Aku sudah tidak sabar menunggu karya-karyamu selanjutnya.