
Cinta yang tak terucap
adalah Rectoverso. Dalam bentuk visualnya, karya Dee ini disajikan secara epik, bukan end to end dari satu cerita ke cerita yang lain. Film ini merupakan penggabungan lima kisah dengan penggalan-penggalan yang rapi.
Kalau penasaran akan
penggambaran seorang autism yang menemukan kenyamanan saat bersama seseorang,
kemudian rasa yang ia punya tak mungkin bertepuk karena urusan lain hati,
cerita Malaikat Juga Tahu yang akan menyayatmu. Perhatian dan kebaikan
yang diberikan pada seorang autism, bisa menumbuhkan cinta yang tulus darinya
sehingga apa yang ia terima tak ingin dilepasnya. Seratus yang ia lihat, bagi
seorang autism, hanya satu yang sempurna.
Sebuah tanda yang datang
menjadi Firasat tentang apa yang akan terjadi. Tidak semuanya mampu menerima kelebihan
itu dengan hati lapang jika apa yang difirasatkan adalah benar terjadi. Kehilangan
orang yang dicintai adalah hal yang tidak diinginkan. Firasat akan
kehilangannya, diliputi rasa takut yang menghantui sekiranya masih wajar, tapi
keinginan membatalkan takdir Tuhan dengan apapun cara manusia Tuhan lah yang
lebih berkuasa. Kematian adalah hal yang dirahasiakan Tuhan, pun untuk nyawa
sendiri.
Kesan pertama yang
diberikan seringkali membekas lama, seperti bekas luka. Cicak-Cicak di
Dinding. Cicak, bagi orang lain menjijikkan, bagi yang lain lagi dibilang
lucu, yang lainnya menganggap cicak itu menyenangkan karena nyamuk yang
ditangkapnya tak akan menggigit kulit halus manusia. Bagi seseorang di kisah
ini, dia bersedia menunggu lama seekor cicak yang ia lihat hanya sekali, saat
pertama kali bertemu. Pada akhirnya, penantiannya itu dijawab dengan garis
cinta yang lain dan memberikan luka.
Sahabat adalah orang yang
rela berkorban mungkin mati-matian
agar kita bahagia. Mendengar semua keluh kesah atau canda tawa yang kita bagi
dengannya adalah cara dia menjaga kita, tanpa harus menceritakan kepada kita
apa yang dialaminya. Terkadang kita acuh, hanya ingin didengar, tanpa ingin
mendengar. Hingga terasa terlamabat bagi kita untuk menyadari bahwa yang selama
ini selalu ada dan mengerti kita adalah sahabat kita sendiri, bukan aktor-aktor
yang kita ceritakan kepada sahabat kita. Curhat Buat Sahabat.
Rasa simpati bahkan jatuh
hati pada seseorang, tidak semua orang mampu mengungkapkannya. Sebatas
mengirimkan sinyal, tanda, atau isyarat kepada yang dia cintai. Hanya
Isyarat. Ratusan isyarat yang diberikan adalah nihil, berbanding lurus
dengan orang yang sama sekali tidak menginginkan dirinya jatuh cinta. Biar
hanya mengagumi dan memiliki dari jauh, itu lebih dari cukup.
Yah, cinta yang tulus itu
kepada jiwa bukan hanya raga, dengan jiwa bukan hanya dengan hati. Sempurna
kelihatannya jika apa yang kita cintai dengan begitu menjadi lebih dekat dengan
kita, memilikinya. Tapi pilihan yang lain adalah cukup memeluknya dengan
kebahagiaannya sendiri, meski tak harus memiliki, bahkan dengan tak
mengucapkannya.
Jika kamu mempunyai cinta
yang tak terucap, biarlah cintamu semakin tulus dengan membiarkannya bahagia
dengan caranya sendiri. Mungkin... :)
No comments:
Post a Comment